Tag : potolo

Lindungi PETI Potolo, Stenly Wuisang Miliki ‘BodyGuard’, Manfaatkan oknum Tentara dan oknum Polisi

Lindungi PETI Potolo, Stenly Wuisang Miliki ‘BodyGuard’, Manfaatkan oknum Tentara dan oknum Polisi

Kapolda Sulut Royke Lumowa saat memimpin operasi penertiban di lokasi PETI Potolo Desa Tanoyan Selatan Lolayan Bolmong pada 17 Maret 2020 (KPC/2020/istimewa)

KOTAMOBAGU POST – Kiprah Stenly Wuisang diketahui Big Bos Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) Lokasi Potolo, Tanoyan Selatan, memang perkasa karena memiliki pengawas mulai dari Bodyguard (sekurity), dan sering memanfaatkan oknum anggota Tentara dan oknum anggota Polisi (Polri).

Bahkan pada 17 Maret 2020, ada sejumlah oknum security alias BodyGuard yang bekerja pada Bos Stenly Wuisang, yang diduga kuat ikut terlibat dalam kasus penganiayaan dan pengeroyokan wartawan SulutGo, Roni Bonde.

Nyawa Ronni Bonde nyaris dihabisi, dia dipersekusi menuju kerumunan massa dengan memanfaatkan keramaian di momen operasi penertiban Peti Potolo, dipimpin oleh Kapolda Sulut, Irjen Pol.Royke Lumowa.

Terkait BodyGuard ternyata ada 26 orang yang digaji oleh Stenly Wuisang Big Bos Tambang Ilegal Potolo dan mereka menjadi security bagi aktifitas PETI diperbukitan Desa Tanoayan Selatan, Kecamatan Lolayan.

Terungkapnya 26 orang security digaji Rp5 juta perbulan, sesuai pengakuan sejumlah warga Tanoyan Selatan.

“Bos Stenly Wuisang yang menggaji seluruh security berjumlah 26 orang. Sebulannya Rp5 juta,” kata Papa Iki, seorang tokoh masyarakat Tanoyan Selatan, yang ikut direkam percakapannya oleh sejumlah petugas intelejen, medio Januari 2020.

Selain rekaman percakapan lelaki ini, sumber lain tokoh warga setempat juga menyatakan bahwa Bos Stenly Wuisang sudah menaikan gaji para security di pertambangan Potolo.

“Sebelumnya gaji yang diberikan oleh Koperasi Mediow Potolo hanya sekira Rp2 jutaan, namun sudah dinaikan menjadi Rp5 juta perbulan,” kata sumber lain.

Dari informasi diperoleh, Stenly Wuisang juga pada akhir 2019 lalu, sempat memanfaatkan sejumlah oknum anggota TNI dari kesatuan BAIS untuk melindungi pertambangan illegal di Potolo dengan ukuran bak pengolahan emas seluas 75 x 35 meter.

Para oknum Anggota TNI ini kemudian diusir warga setempat karena melakukan intimidasi para penambang lokal. Oknum ini di pimpin oleh Mayor TNI Nur Cahyo dan anak buahnya, yakni Pak Leo, dan rekan-rekan.

Akibatnya, Stenly Wuisang dan Ketua BPD Tanoyan Selatan Ismet Olli, sempat diperiksa oleh para penyidik BAIS TNI di Kalibata Jakarta, atas dugaan kasus penyalahgunaan merekrut sejumlah oknum TNI untuk kepentingan pribadi Stenly Wuisang melindungi Peti Potolo.

Selain itu, menurut sumber terpercaya, pada operasi Polda Sulut tanggal 09 Maret 2020 di perbukitan Tanoyan Selatan, terinformasi ada sejumlah oknum anggota Brimob yang diamankan dari lokasi Peti Potolo, yang diduga ikut melindungi lokasi tempat usaha illegal Stenly Wuisang, meski informasi ini masih membutuhkan verifikasi dari Kesatuan Brimob di Manado. (tim kpc)

Hasil Operasi Polda Sulut, Sejumlah Eksavator di Police Line Lokasi Potolo, Hilang 

Hasil Operasi Polda Sulut, Sejumlah Eksavator di Police Line Lokasi Potolo, Hilang 

Dua Eksavator ini yang diduga sudah di police line pada tanggal 09 Maret 2020 oleh Polda Sulut di Peti Potolo Desa Tanoyan Selatan, namun kemudian hilang dari tempatnya. (foto : istimewa)

KOTAMOBAGU POST – Hasil operasi yang dilakukan oleh jajaran Polda Sulut di Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) lokasi Potolo, Tanoyan Selatan yakni melakukan police line sekira lima unit eksavator.

Anehnya, sejumlah alat berat yang sudah di police line di kawasan PETI perbukitan Potolo tersebut , dikabarkan hilang dari tempatnya.

“Ada dua unit eksavator kami tahu digunakan oleh Stenly Wuisang. Dua alat ini sudah di Police Line oleh tim operasi Polda Sulut pada tanggal 09 Maret 2020. Namun pada tanggal 13 Februari 2020, dua unit eksavator sudah tidak berada di lokasi Potolo,  padahal dua alat itukan dalam proses hukum,” ungkap sumber terpercaya Kotamobagu Post.

Menurutnya, saat para polisi tidak berada di lokasi, maka kedua alat berat itu kemudian diambil dan di bawa ke Manado.

Sementara itu Kapolres Kotamobagu AKBP Prastya Sejati SIK, membenarkan tentang adanya operasi dan police line di PETI Potolo.

“Iya benar, itu (operasi) kan operasi sebelumnya, nanti kita chek lagi. Ada 1 unit (eksavator) yang di police line,” kata Kapolres Kotamobagu, saat jumpa pers dengan puluhan wartawan, Rabu siang (18/03/2020).

Informasi dirangkum Kotamobagu Post, ada 5 unit eksavator yang di police line oleh tim operasi Polda Sulut pada tanggal 09 Maret 2020, namun saat polisi lengah, diduga sejumlah barang bukti eksavator itu diambil oleh pemiliknya dari lokasi Peti Potolo.

Hingga berita ini diturunkan, masih membutuhkan konfirmasi lagi dengan pihak berkompeten di Polda Sulut terkait jumlah dan status police line alat berat eksavator yang disebutkan para sumber itu. (audie kerap)

‘Kebal’ Hukum! Aktifitas Terkini Tambang Emas Ilegal Potolo Kabupaten Bolmong

‘Kebal’ Hukum! Aktifitas Terkini Tambang Emas Ilegal Potolo Kabupaten Bolmong

Dua Eksavator diduga milik Ko SW alias Sen yang membongkar perbukitan lokasi potolo dengan bebas membongkar bukit tanpa gangguan aparat penegak hukum (foto : kotamobagu post/maret/2020)

KOTAMOBAGU POST, EDITORIAL  – Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) diperbukitan Potolo Desa Tanoyan Selatan Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong seolah sudah kebal hukum.

Ada banyak cukong alias pemilik modal yang terang-terangan mencoreng kewibawaan hukum Negara Republik Indonesia.

Para pengusaha ini menggunakan alat berat Eksavator menggeruk perbukitan dengan bebas, tanpa penindakan hukum.

tampak sejumlah alat berat jenis eksavator meratakan perbukitan di lokasi Potolo Desa Tanoyan Selatan Kabupaten Bolmong (foto : Kotamobagu Post/Maret/2020)

Puluhan mesin berat eksavator telah meluluhlantakan perbukitan, menghancurkan ekosistem tanpa jaminan pelestarian kembali, bahkan merampok kekayaan alam Negara, namun dibiarkan bebas.

Jelas sekali pertambangan emas dengan teknologi open pit yang berlangsung di lokasi Potolo, bukan dilakukan oleh masyarakat biasa, namun masyarakat penambang hanya diberi upahan oleh si cukong pemilik modal.

Sebab nilai invetasi mereka mulai dari ratusa juta hingga miliaran rupiah untuk bisa mengelola bak penyiraman seukuran 75×35 meter atau bak-bak kecil seukuran 20×25 meter.

Kondisi bukit namun sudah dimenjadi lembah struktur tanah diperbukitan Lokasi Potolo telah rata tampak aktifitas sejumlah alat berat Eksavator (foto : kotamobagu post/maret/2020)

Kurangnya warga masyarakat bekerja di Lokasi Potolo ini, lantaran umumnya pertambangan emas ilegal disini, menggunakan eksavator untuk menggeruk material dan meratakan gunung.

Tentu saja para cukong di lokasi Potolo ini, memang menyiapkan modal dari ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Dipotolo sendiri sejumlah cukong disebut-sebut beraktifitas tanpa gangguan dari aparat keamanan ataupun tak pernah disentuh oleh Pemerintah Kabupaten Bolmong, dalam hal aktifitas illegal mereka disebut-sebut, “mereka” pengusaha sudah ‘kebal’ hukum.

Ini adalah  aktifitas terkini di lokasi perbukitan Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong Provinsi Sulawesi Utara.

Bak Penyiraman Emas ukuran 35×75 meter yang saat ini sudah masuk tahap penyiraman dan menggunakan sianida di lokasi Potlo Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong. (foto Kotamobagu Post/Maret/2020)

Meski pada Selasa Tanggal 09 Maret 2020, operasi penertiban Tambang Emas Ilegal Potolo ini, dilakukan oleh pihak Polda Sulut, namun hingga Editorial berita ini diturunkan, belum mendapatkan realis resmi dari pejabat Polda Sulut tentang hasil operasi penertiban tersebut.

Kita tunggu saja, apakah benar para cukong di perbukitan Potolo kebal hukum atau tidak. (****)

Polda Sulut Operasi Penertiban! Tambang Emas Ilegal Potolo, Kocar-Kacir

Polda Sulut Operasi Penertiban! Tambang Emas Ilegal Potolo, Kocar-Kacir

Polda Sulut menggelar operasi penertiban di kawasan perbukitan tambang emas Potolo Desa Tanoyan Selatan Kabupaten Bolmong foto dari udara aktifitas PETI tahun 2018

KOTAMOBAGU POST –  Kepolisian Daerah Sulawesi Utara (Polda Sulut) dibawah kepemimpinan Irjen Pol Drs Royke Lumowa MM, melakukan operasi penertiban di  kawasan Pertambangan Emas Tanpa Ijin, (PETI) lokasi Potolo Kecamatan Lolayan,  Kabupaten Bolmong.

Kabar dirangku Kotamobagu Post dari berbagai sumbur, ratusan penambang di lokasi Perbukitan Potolo Desa Tanoyan Selatan yang sedang beraktifitas menggeruk bukit, kocar-kacir melarikan diri.

Menurut sumber terpercaya, operasi pernertiban ini digelar oleh Subdit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polda Sulut, sejak pagi hari Senin, (09/03/2020).

Para petugas dari Polda Sulut yang diback up oleh jajaran Polres Kotamobagu itu, melakukan penyisiran di Lokasi Potolo dan menyasar bak-bak penyiraman bercampur bahan beracun berbahaya (b3) jenis sianida.

Operasi pembersihan PETI Potolo tersebut, dibenarkan oleh Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati SIK, didampingi Waka Polres, Kompol Hi.Effendy Tubagus.

Iya memang ada operasi penertiban di Potolo, dari Polda Sulut. Polres Kotamobagu (hanya) memback,” kata Efendy Tubagus membernarkan.

Senada hal itu, Kasat Reskrim Polres Kotamobagu AKP Muhamad Fadli SIK membenarkan adanya operasi penertiban di lokasi Potolo melalui Whats App, namun tidak merinci tentang kronologi operasi tersebut.

Sumber lain berhasil dimintai informasi menyebutkan, ada sebanyak 5 unit eksavator yang berhasil tertibkan oleh Polda Sulut saat operasi.

5 Unit alat berat ini diduga digunakan untuk menggeruk perbukitan dan digunakan oleh dua pengusaha yang kabarnya memiliki bak penyiraman yang sangat besar yakni berukuran 75×35 meter persegi.

Ada 5 unit eksavator yang saya dapat informasi sudah di police line,” kata sumber minta namanya tak ditulis.

Kabar dirangkum operasi penertiban tambang emas illegal lokasi Potolo Kecamatan Lolayan, dipantau ketat oleh Mabes Polri, terkonfirmasi sejumlah anggota Mabes Polri bahkan sedang stand by monitoring di Sulawesi Utara.

Hingga berita ini diturunkan, belum mendapat konfirmasi resmi dari pejabat Polda Sulut yang berkompeten, sehingga adanya police line 5 unit eksavator masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut. (audie kerap)

Selain Menguasai Tanah Tambang Emas Potolo, Stenly Wuisang Juga Mempolisikan Adrian Kobandaha di Polda Sulut 

Selain Menguasai Tanah Tambang Emas Potolo, Stenly Wuisang Juga Mempolisikan Adrian Kobandaha di Polda Sulut 

kawasan perbukitan tambang emas Potolo Desa Tanoyan Selatan Kabupaten Bolmong

KOTAMOBAGU POST – Stenly Wuisang yang kini menjadi bos tambang emas sebagian lokasi di Potolo, Desa Tanoyan Selatan, Kabupaten Bolmong Sulut, mempidanakan Adrian Kobandaha sang pemilik tanah di Polda Sulut.

Adrian Kobandaha dilaporkan oleh Stenly Wuisang ke Polda Sulut nomor polisi : LP/688/X/2019/SPKT tanggal 17 Oktober 2019.

Surat Perintah Penyelidikan nomor ; SP/LIDIK/429/X2019/Dit Reskrimum tanggal 22 Oktober 2019 dan secara marathon pada tanggal 13 November 2019 diterbitkan SPDP Nomor : B/92/XI/2019/DIT Reskrimum.

“Pak Stenly Wuisang melaporkan saya di Polda Sulut, saya dijerat pasal penggelapan padahal sebagian tanah saya sejak Bulan November 2019 dikuasai oleh Stenly Wuisang. Diatas tanah saya ada Bak penyiraman emas seluas 75×35 kedalaman 7 meter yang dikelola oleh pelapor Stenly Wuisang,” kata Adrian Kobandaha, saat hadir dalam persidangan Pra Peradilan Kapolda Sulut di Pengadilan Negeri Kotamobagu.

Adrian merasa heran, Stenly Wuisang belum berstatus pemilik tanah di lokasi Potolo, karena kwitansi yang dia tandatangani masih ada perjanjian akan dilakukan pengukuran tanah setelah selesai bersengketa di Pengadilan Negeri Kotamobagu.

“Justeru Stenly Wuisang bersama Ketua Koperasi mediow Potolo yang melakukan MoU dengan Koperasi Hatama pada bulan November 2019 dan menguasai tanah milik saya, anehnya Stenly Wuisang melaporkan saya yang menggelapkan tanahnya padahal dia yang menguasai sebagian tanah saya,” tegas Kobandaha.

Namun menurut seorang tokoh pemuda Desa Tanoyan Selatan yakni Nasrul Musa, kepada Kotamobagu Post mengakui kalau Stenly Wuisang sedang mengelola tanah milik Adrian Kobandaha dengan mengelola bak penyiraman emas seluas 75 x 35 x 7 meter.

“Bos kami Stenly Wuisang, dia yang membiayai pengolahan bak di Lokasi Potolo (tanah milik Adrian Kobandaha),” kata Nasrul Musa saat Kotamobagu Post dan Tim BAIS TNI melakukan investigasi pertambangan emas illegal di Potolo, Desa Tanoyan Selatan, Januari 2020,lalu.

Sejumlah sumber menyatakan; Stenly Wuisang hingga pekan ini (06/03/2020) sedang melakukan pengolahan tambang emas illegal dengan luas bak siram 75x45x7 meter.

“Saat ini sudah dalam tahap penyiraman dan pencampuran CN, bahkan sudah masuk dalam tahap pengisian karbon untuk segera panen emas. Prediksinya sekira 30 sampai 49 kilo emas yang akan dipanen oleh Stenly Wuisang di tanah milik Adrian Kobandaha,” ungkap sumber minta namana tidak ditulis.

Sayangnya Stenly Wuisang dikonfirmasi wartawan melalui WA, tidak mau membalas konfirmasi terkait penguasaan lahan Adrian Kobandaha dan pelaporan dirinya ke Polda Sulut yang berkahir penetapan Adrian Kobandaha selaku pemilik tanah, menjadi tersangka. (audie kerap)

Ada 16 Anggota TNI Dilaporkan Memback Up Pertambangan Emas Ilegal Lolayan, Kabupaten Bolmong 

Ada 16 Anggota TNI Dilaporkan Memback Up Pertambangan Emas Ilegal Lolayan, Kabupaten Bolmong 

oknum Anggota TNI bernitial Mayor NC alias Nur yang dilaporkan memimpin 15 Anggota TNI di lokasi pertambangan emas ilegal Lolayan Kab Bolmong

KOTAMOBAGU POST – Masyarakat Desa Tanoyan Selatan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong, Provinsi Sulawesi Utara resah dengan kehadiran 16 oknum Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kawasan pertambangan emas tanpa ijin (Peti).

16 Oknum Anggota TNI tersebut kemudian pada Senin (06/01/2019) ratusan warga Tanoyan Selatan menggelar demo didepan rumah kediaman alias kontrakan para oknum anggota TNI tersebut.

“Mereka (anggota TNI) berjumlah 16 orang, termasuk didalamnya oknum berpangkat Mayor  sebagai komandan mereka. Mereka benar anggota BAIS TNI, namun mereka ditugaskas untuk Pemilu Kada di Provinsi Sulawesi Utara, namun yang aneh kalau mereka berada di lokasi pertambagan emas tanpa ijin  bahkan menjadi pengawal oknum pengusaha,” ungkap seorang anggota intelejen mengkonfirmasi dan mengaku telah mengirim laporan ke pihak berwenang di Jakarta.

Sumber ini menyebutkan, oknum berpangkat Mayor itu sudah ditarik ke Jakarta pada akhir tahun 2019, namun dikembali ditugaskan di Sulut dalam rangka Pemilu 2020.

Sumber lainnya, yakni; Nasir Ganggai, Ketua Pemuda Desa Tanoyan Selatan, aksi demo ratusan warga di rumah kediaman para anggota TNI di Desa Tanoyan Selatan itu, dipicu oleh kemarahan masyarakat atas tindakan mereka yang melakukan intervensi aktifitas warga di lokasi pertambangan.

Mereka melakukan protes karena tindakan para oknum anggota TNI yang dipimpin oleh komandan mereka berpangkat Mayor bernitial NC alias Nur, melakukan aktifitas yang meresahkan masyarakat di lokasi pertambangan bukit Potolo.

“ini sudah keterlaluan, oknum anggota BAIS TNI si Nur Cahyo meminta pembagian Bak Siram di lahan masyarakat. Dan meminta agar kemudian di bagikan juga ke pihak koperasi madiow potolo hasilnya” kata ketua Pemuda Desa Tanoyan Nasir Ganggai Minggu, (05/01/2020), dilansir dari portalbmr.com.

Hingga berita ini diturunkan, Kotamobagu Post masih belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Kodam XIII Merdeka, terkait dengan kehadiran anggota TNI disebutkan berjumlah 16 orang itu, yang dlaporkan menjaga keamanan segelintir oknum pengusaha yang melakukan aktifitas pertambangan emas di lokasi tambang illegal Potolo Kecamatan Lolayan.

Jumah anggota yang diduga 16 orang tersebut sesuai laporan para sumber di lokasi pertambangan emas tanpa ijin , masih belum diketahui pasti apakah semuanya berasal dari kesatuan BAIS atau ada anggota TNI dari kesatuan lainnya. ( tim kpc)

Sengketa Lahan Coklat di Perbukitan Potolo Tanoyan Selatan, Resmi Naik Banding di PT Manado 

Sengketa Lahan Coklat di Perbukitan Potolo Tanoyan Selatan, Resmi Naik Banding di PT Manado 

Dokumen banding di Pengadilan Tinggi Manado yang diterbitkan oleh Panitera Pengadilan Negeri Kotamobagu

KOTAMOBAGU POST –  Tergugat atas nama Pemerintah dan Masyarakat Tanoyan Selatan (Baca Sangadi dan BPD), resmi menyatakan banding atas Putusan Pengadilan Negeri Kotamobagu dalam sengketa perdata tanah di lokasi Potolo, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong.

Upaya banding atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu nomor 13/Pdt.G/2019/PN.Ktg yang memenangkan penggugat Herry Lewan resmi diterbitkan oleh Panitera PN Kotamobagu Reitha Verra Karouw SH.

Para tergugat resmi menyatakan banding tertanggal 04 September 2019 oleh Panitera PN Kotamobagu, mereka adalah tercatat atas nama Sangadi (Kepala Desa) dan Badan Permusyawarat Desa (BPD) Desa Tanoyan Selatan, serta tergugat 3 Wahudi Tonote dan Adrian Kobandaha.

Menurut Urip Detu kapasitasnya selaku Sangadi dan Ismet Olii keduanya dalam perkara banding kapasitas mereka selaku Pemerintah dan Masyarakat Tanoyan Selatan, esensi banding dilakukan karena lokasi Potolo yang jadi objek sengket, tidak ada fakta persidangan masuk secara administrasi hukum di wilayah hukum Desa Tungoi II.

“Kami menyakatan banding atas putusan Majelis Hakim pengadilan Negeri Kotamobagu yang memenangkan penggugat Herry Lewan. Padahal Fakta persidangan penggugat hanya menggunakan surat kepemilikan tanah yang tidak bisa diuji dalam sidang lokasi, serta letak tanah dan keterangan ahli Pemkab Bolmong di persidangan menyatakan lokasi Potolo masuk diwilayah geografi dan administrasi hukum Desa Tanoyan Selatan,” ungkap Sangadi dan BPD Tanoyan Selatan, baru-baru ini.

Karena kata mereka, saat sidang tempat (Descente) di gelar oleh Majelis Hakim PN Kotamobagu,bertempat lokasi  di Potolo. Padahal Potolo (lokasi sidang descente)  bukan di wilayah hukum Desa Tungoi II sesuai keterangan ahli pemkab Bolmong serta bukti-bukti dokumen titik kordinat hutan dari Kementerian Kebutanan RI.

Senada hal itu, Verry Satria Dilapanga SH kapasitasnya Kuasa Hukum para tergugat atas nama Sangadi Tanoyan Selatan Cs, menyatakan sudah menyiapkan memori banding dalam perkara banding di PN Manado.

“Mulai dari sidang Descente (sidang tempat) penggugat Herry Lewan tidak bisa menunjukan lokasi yang diklaim di persidangan adalah miliknya berakibat juga penggugat tidak bisa ditunjukan batas-batasnya tanah objek sengketa, semuanya akan terungkap di persidangan Pengadilan Tinggi,” ungkap Very Dilapanga SH, Senin (21/10/2019).

Sebab menurut Very Dilapangan SH, ketidakhadiran penggugat Herry Lewan dalam sidang Descente, membuktikan kalau objek sengketa tanah berupa alat bukti SKKT diterbitkan oleh Sangadi Tungoi, memang bukan berada di lokasi Potolo, karena keterangan ahli Pemkab Bolmong di persidangan jelas menyatakan Sangadi Tungoi tidak boleh menebitkan surat kepemilikan tanah di wilayah hukum desa lainnya. (audie kerap)