Tag : tanoyan selatan

Kasus Persekusi Wartawan Desa Tanoyan Selatan , Kapolres Kotamobagu : “Dua Kali Panggilan Tak Datang, DiJemput”

Kasus Persekusi Wartawan Desa Tanoyan Selatan , Kapolres Kotamobagu : “Dua Kali Panggilan Tak Datang, DiJemput”

AKAN DIJEMPUT PAKSA. Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati SIK mengatakan akan menjemput para saksi bila dua kali panggilan tidak datang.

KOTAMOBAGU – Kasus penganiayaan wartawan SulutGo, Ronni Bonde dimomen operasi Peti dipimpin langsung Kapolda Sulut, Irjen Pol.Royke Lumowa, pada 17 Maret silam, masih terus diperiksa oleh Penyidik Polres Kotamobagu.

Sebelumnya Kapolres Kotamobagu berjanji kepada sedikitnya 50 wartawan melalui jumpa pers digelar di ruang kerjanya (18/03/2020), akan memproses secepatnya kasus penganiayaan yang nyaris merenggut Ronni Bonde saat meliput operasi Peti di Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, Provinsi Sulut.

Terkait penanganan kasus Persekusi Wartawan Ronni Bonde yang sudah dua pekan ini, Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati SIK mengatakan, kasus sedang ditangani oleh Penyidik Reskrimum.

“Kasus ini sedang jalan. Saat ini sedang pemanggilan saksi-saksi dan masih ada saksi yang akan diperiksa,” kata Kapolres Kotamobagu, melalui Kasubag Humas, Iptu Rusman M Saleh, menjawab pertanyaan wartawan Kotamobagu Post.

Dikatakan, upaya pemanggilan para saksi terus dilakukan oleh Penyidik, namun jika sudah dua kali panggilan dan tidak mau datang, maka akan dijemput paksa.

“Masih ada pemanggilan saksi. Jika panggilan kedua tidak datang, akan di jemput,” tegas Kapores Kotamobagu.

Informasi dihimpun Kotamobagu Post, pihak Penyidik Reskrimum Polres Kotamobagu telah memeriksa 4 orang saksi, di tempat kejadian perkara (TKP), untuk dimintai keterangannya.

Pada tanggal 24/03/2020,  tiga saksi yang dipanggil antara lain YM alias Yon, SM alias Ucok dan MF alias Mas.

Selanjutnya tanggal 25/03/2020 saksi Toni Malureng Yogi Detu di panggil sebagai saksi dan yang hadir hanya TN alias Toni.

Senada hal itu, korban Ronni Bonde menyampaikan terimakasih atas proses hukum yang ditengah dilaksanakan oleh Kapolres Kotamobagu dan penyidiknya.

“Saya memberikan apreseasi kepada para penyidik, saya berharap secepatnya sudah ada penetapan tersangka,” ucap Bonde, berharap. (tim jurnalist bmr)

Kapolres Kotamobagu Jamin ‘Tangkap’ Kawanan Pelaku Persekusi Wartawan Desa Tanoyan Selatan 

Kapolres Kotamobagu Jamin ‘Tangkap’ Kawanan Pelaku Persekusi Wartawan Desa Tanoyan Selatan 

Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati SIK saat jumpa pers dengan puluhan jurnalist terkait penganiayaan wartawan (KPC/2020)

KOTAMOBAGU POST –  Kapolres Kotamobagu AKBP Prasetya Sejati, SIK menjamin melakukan proses hukum para pelaku persekusi wartawan Roni Zulfikal Bonde, di Desa Tanoyan Selatan, Lolayan, Kabupaten Bolmong.

Penegasan ini disampaikan Kapolres AKBP Prasetya Sejati, SIK saat menerima kunjungan sedikitnya 50 jurnalist tergabung dalam organisasi PWI, AJI, IJTI dan organisasi perusahaan pers yakni; SMSI dan AMSI diruang kerjanya, Rabu (18/03/2020)

Kedatangan para journalist Cetak, Elektronik dan Siber sejak pagi tadi, tampak membuat ruangan terima tamu Kapolres Kotamobagu, dijubeli wartawan.

Para journalist datang untuk mempertanyakan kasus penganiayaan terhadap Wartawan Sulutgoonline.com, Roni Zulfikal Bonde, oleh massa di Desa Tanoyan Selatan, Selasa (16/3/2020), yang sudah dilaporkan ke pihak Polres Kotamobagu.

“Saat ini kita tenga melakukan peyelidikan, saya sudah memerintahkan anggota untuk segera melakukan pemanggilan kepada sejumlah nama sebagai saksi,” kata Kapolres.

Ia juga berjanji akan menseriusi kasus ini, dengan mengusut tuntas untuk diproses secara hukum.

“Saya turut prihatin atas musibah ini, harapan saya teman-teman wartawan turut membantu kami,” ujarnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Kotamobagu, Gunady Mondo, berharap pihak Polres Kotamobagu menindak tegas para pelaku yang terlibat dalam penganiayan terhadap wartawan Roni Zulfikal Bonde.

“Rekan kami Roni berada di tempat itu untuk melaksanakan tugas peliputan akan tetapi mendapat perlakukan kekerasan oleh sejumlah orang. olehnya saya miminta kepada Polres Kotamobagu untuk menseriusi kasus ini, dengan secepatnya menangkap para pelaku,” Kata Gun sapaan akrabnya, Rabu (18/3/2020).

Kasus persekusi ini terjadi saat Kapolda Sulut, Irjenpol Royke Lumowa  melakukan olah TKP di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) Potolo. Kedatangan Kapolda ini disambut ratusan massa yang terkosentrasi di pintu masuk Pasar arah Potolo. Korban bersama empat wartawan lainnya hendak melakukan liputan, namun, tiba-tiba didatangi sejumlah orang.

Korban langsung diinterogasi, bahkan beberapa orang melakukan penganiayaan. Akibat kejadian ini, korban Roni mengalami memar di bagian perut, leher belakang dan kepala. Bahkan, baju yang Ia gunakan robek.

“Saya masih merasa pusing akibat pukulan tersebut, bahkan sekujur tubuh sakit. Saya ini bawa id card pers saat liputan, kok dihakimi seperti itu. Saya meminta Polres Kotamobagu serius menangani kasus ini,” ujar Roni.

Tidak hanya dianiaya, dua buah handpone milik korban raib diambil para pelaku yang sedang beringas saat itu. (tim journalist/audie kerap)

Resmi Melapor di Polisi, Wartawan SulutGo Diculik, Diseret, Dijarah dan Digebukin Sejumlah Preman

Resmi Melapor di Polisi, Wartawan SulutGo Diculik, Diseret, Dijarah dan Digebukin Sejumlah Preman

Ronni Bonde wartawan Sulutgo online diculik dari kerumunan rekannya kemudian diseret dan hendak dihabisi sejumlah preman. Tampak korban menunjukan bajunya yang sobek-sobek akibat pengeroyokan sejumlah preman (foto : KPC 2020)

KOTAMOBAGU POST – Wartawan SulutGoOnline.Com, rupanya diculik dari kerumunan rekan-rekannya oleh dua orang yang menggunakan penutup wajah, dan diseret menuju kerumunan massa kemudian ramai-ramai dikeroyok oleh sejumlah preman.

Wartawan Ronny Bonde, journalist yang ikut meliput inspeksi Kapolda Sulut di Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, untunglah masih bisa diselamatkan dari pengeroyokan dan penganiayaan oleh sejumlah preman.

“Saat bersama rekan wartawan, tiba-tiba ada dua orang langsung menyeret saya, seperti gaya penculikan tangan mereka mengunci leher saya dan saya diseret menuju kerumuman massa yang adalah kelompok preman itu,” kata Ronni Bonde, wartawan SulutGoOnline.Com, saat diwawancarai Kotamobagu Post, usai diperiksa Penyidik Polres Kotamobagu, pukul 20.00 Wita, (Selasa. 17/03/2020).

Yang seorang menculik dirinya menurut Ronni Bonde, menggunakan penutup wajah dan seorang lagi memakai kain. “Jadi saya laporkan oknum yang menyeret saya, dia saya kenal dari bentuk wajah dan bentuk tubuhnya, dia itu tokoh pemuda di Tanoyan Selatan dan diketahui saat ini yang ikut menggerakan massa ,” ungkap Bonde.

Saat dirinya diseret sekira 5 meter, dirinya kemudian berontak dan hendak melepaskan diri. “Saya merasa saya akan mereka habisi karena saat saya diseret, lelaki yang menutup wajahnya berbisik ditelinga saya, “kamu slah satu yang ikut-ikut muat berita di potolo”, ucap Ronni Bonde, sambil menunjukan bajunya yang sobek-sobek akibat penganiayaan massa.

Dikatakan, untunglah pada waktu itu, masih ada keluarga saya disekitar situ yang melakukan pembelaan dan kemudian ada anggota polisi yang berusaha melakukan perlindungan dari amukan sejumlah preman.

“Memang saat saya masih di Indomaret, saya lihat ada sekelompok preman yang saya tahu adalah security di lokasi tambang emas Potolo yang menjadi kaki tangan seorang cukong penyandang dana. Mereka sudah mengincar saya sejak dari Indomaret, sebelum terjadi penganiayaan di komplek Pasar Tanoyan Selatan,” ungkapnya.

Selain menganiaya, juga dua unit handphone genggam juga dijarah oleh sejumlah preman. “HP saya hilang dan mereka menjarah saya dengan merampas HP saya saat terjadi penganiayaan,” tambahnya.

Ronni Bonde mengaku, dirinya sudah melaporkan ke pihak Polres Kotamobagu dengan Nomor STTLP/243.a/III/2020/Sulut/SPKT/RES-KTG, atas kasus penganiayaan dan pengeroyokan dirinya saat meliput kegiatan Kapolda Sulut, Irjen Pol.Royke Lumowa.(audie kerap)

Terjadi Aniaya Pengeroyokan Wartawan Dimomen kunker Kapolda Sulut di Tanoyan Selatan

Terjadi Aniaya Pengeroyokan Wartawan Dimomen kunker Kapolda Sulut di Tanoyan Selatan

Tampak situasi wartawan SulutGo ditengah massa saat dipukuli dan dikeroyok oleh massa warga Desa Tanoyan Selatan (foto : grup HJB)

KOTAMOBAGU POST – Kewibawaan Kepolisian Daerah Sulut (Polda Sulut) dicoreng oleh sejumlah preman dengan menganiaya seorang wartawan saat meliput inspeksi penertiban Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) Desa Tanoyan Selatan, Lolayan, Kabupaten Bolmong.

Wartawan yang dianiaya dan dikerubuti massa yakni; Ronni Bonde, tercatat journalist media online SulutGo tepat dimomen Kapolda Sulut Drs. Royke Lumowa SH, MM dengan ratusan anggota polisi berada di Desa Tanoyan Selatan, Selasa, (17/03/2020) untuk inspeksi penertiban PETI.

Dalam video yang tersebar di medsos FaceBook , tampak wartawan SulutGo itu diteriaki seperti maling oleh massa di Desa Tanoyan Selatan, kemudian dipukuli seperti seorang penjahat saja.

Penganiayaan terjadi sekira pukul 14.00 Wita, di komplek Pasar Tanoyan Selatan juga disaksikan oleh puluhan wartawan lain yang meliput rombongan Kapolda Sulut melewati Desa Tanoyan Selatan dan menuju perbukitan Potolo lokasi tambang emas illegal dalam rangka operasi penertiban.

“Wartawan yang dipukuli sebelumnya mereka teriaki yang sering muat berita tambang potolo, kemudian mereka menyeret dan memukuli kemudian ada polisi yang melarai juga tampak terdesak ditengah kerubutan massa,” ungkap sumber seorang wartawan dilokasi penganiayaan.

Sementara itu, wartawan SulutGo jadi korban penganiayaan dan pengeroyokan dikabarkan hingga malam mini sekira pukul 20.00 Wita, berada di Mako Polres Bolmong untuk melaporkan kasus tersebut.

Ketua PWI Kotamobagu Gunadi Mondo meminta agar kasus penganiayaan wartawan saat meliput kegiatan Kapolda Sulut, harus diproses oleh kepolisian

“Kami dari PWI mendesak untuk menangkap para pelakunya dan memproses sesuai hukum yang berlaku. Secara pribadi wartawan itu harus dilindungi dengan KUHP dan secara tugas wartawan, bersangkutan di lindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999,” tegas Gunadi Mondo. (tim kpc)

Sengketa Lahan Coklat di Perbukitan Potolo Tanoyan Selatan, Resmi Naik Banding di PT Manado 

Sengketa Lahan Coklat di Perbukitan Potolo Tanoyan Selatan, Resmi Naik Banding di PT Manado 

Dokumen banding di Pengadilan Tinggi Manado yang diterbitkan oleh Panitera Pengadilan Negeri Kotamobagu

KOTAMOBAGU POST –  Tergugat atas nama Pemerintah dan Masyarakat Tanoyan Selatan (Baca Sangadi dan BPD), resmi menyatakan banding atas Putusan Pengadilan Negeri Kotamobagu dalam sengketa perdata tanah di lokasi Potolo, Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolmong.

Upaya banding atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu nomor 13/Pdt.G/2019/PN.Ktg yang memenangkan penggugat Herry Lewan resmi diterbitkan oleh Panitera PN Kotamobagu Reitha Verra Karouw SH.

Para tergugat resmi menyatakan banding tertanggal 04 September 2019 oleh Panitera PN Kotamobagu, mereka adalah tercatat atas nama Sangadi (Kepala Desa) dan Badan Permusyawarat Desa (BPD) Desa Tanoyan Selatan, serta tergugat 3 Wahudi Tonote dan Adrian Kobandaha.

Menurut Urip Detu kapasitasnya selaku Sangadi dan Ismet Olii keduanya dalam perkara banding kapasitas mereka selaku Pemerintah dan Masyarakat Tanoyan Selatan, esensi banding dilakukan karena lokasi Potolo yang jadi objek sengket, tidak ada fakta persidangan masuk secara administrasi hukum di wilayah hukum Desa Tungoi II.

“Kami menyakatan banding atas putusan Majelis Hakim pengadilan Negeri Kotamobagu yang memenangkan penggugat Herry Lewan. Padahal Fakta persidangan penggugat hanya menggunakan surat kepemilikan tanah yang tidak bisa diuji dalam sidang lokasi, serta letak tanah dan keterangan ahli Pemkab Bolmong di persidangan menyatakan lokasi Potolo masuk diwilayah geografi dan administrasi hukum Desa Tanoyan Selatan,” ungkap Sangadi dan BPD Tanoyan Selatan, baru-baru ini.

Karena kata mereka, saat sidang tempat (Descente) di gelar oleh Majelis Hakim PN Kotamobagu,bertempat lokasi  di Potolo. Padahal Potolo (lokasi sidang descente)  bukan di wilayah hukum Desa Tungoi II sesuai keterangan ahli pemkab Bolmong serta bukti-bukti dokumen titik kordinat hutan dari Kementerian Kebutanan RI.

Senada hal itu, Verry Satria Dilapanga SH kapasitasnya Kuasa Hukum para tergugat atas nama Sangadi Tanoyan Selatan Cs, menyatakan sudah menyiapkan memori banding dalam perkara banding di PN Manado.

“Mulai dari sidang Descente (sidang tempat) penggugat Herry Lewan tidak bisa menunjukan lokasi yang diklaim di persidangan adalah miliknya berakibat juga penggugat tidak bisa ditunjukan batas-batasnya tanah objek sengketa, semuanya akan terungkap di persidangan Pengadilan Tinggi,” ungkap Very Dilapanga SH, Senin (21/10/2019).

Sebab menurut Very Dilapangan SH, ketidakhadiran penggugat Herry Lewan dalam sidang Descente, membuktikan kalau objek sengketa tanah berupa alat bukti SKKT diterbitkan oleh Sangadi Tungoi, memang bukan berada di lokasi Potolo, karena keterangan ahli Pemkab Bolmong di persidangan jelas menyatakan Sangadi Tungoi tidak boleh menebitkan surat kepemilikan tanah di wilayah hukum desa lainnya. (audie kerap)