Pernyataan Resmi Walikota Kotamobagu Terkait Pembatasan Jam Operasional Pasar 

KOTAMOBAGU POST – Kebijakan Pemerintah Kota Kotamobagu tidak menutup aktifitas pasar, hanya membatasi jam buka atau operasionalnya adalah untuk melindungi masyarakat Kotamobagu dari wabah Covid 19.

Berikut pernyataan langsung Walikota Kotamobagu Ir.Hj.Tatong Bara melalui realis diterima redaksi Kotamobagu Post, (08/04/2020).

“Iya, jadi begini. Kita semua tahu bahwa pasar merupakan salah satu fasilitas umum dengan intensitas lalu lintas orang dan barang yang tergolong tinggi, terutama pola human interaction yang cukup dekat. Dengan pola interaksi seperti ini, pasar menjadi salah satu tempat yang paling rentan terhadap penyebaran Covid-19, sehingga kami perlu mengambil kebijakan untuk membatasi jam operasionalnya,” ungkap Tatong Bara.

Dikatakan, Substans pembatasan aktivitas itu adalah puncak kepadatan lalulintas jual beli di pasar biasanya antara pukul 5 subuh sampe dengan pukul 9 pagi. Setelah jam itu, aktivitas mulai agak menurun, dan terus turun pada siang harinya.

“Setelah siang hari hingga malam, biasanya aktivitas di pasar adalah bongkar muat barang. Masyarakat Kotamobagu tentu tahu, pedagang yang berjualan di Pasar Serasi, Pasar 23 Maret, Pasar Poyowa Kecil, tidak semuanya orang Kotamobagu. Tapi ada juga yang berasal dari luar Kotamobagu. Ada yang dari Makassar,Palu, Kalimantan, dan daerah-daerahlainnya di Sulawesi yang beberapa diantaranya sudah masuk zona merah penyebaran Covid-19,” ujar Tatong Bara.

Selain itu, patut menjadi pertimbangan bersama bahwa pasar di Kotamobagu menjadi salah satu magnet bagi para pedagang dari luar daerah, terutama memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Ingat, barometer Bolmong Raya sebagai wilayah mayoritas muslim ketika memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri adalah Kotamobagu, dan ini adalah lumbung besar bagi para pedagang dari luar daerah.

“Inilah yang patu kita jaga bersama. Di sini, saya tak mengkategorikan mereka sebagai pembawa virus, tapi di tengah situasi seperti ini adakah yang bisa menjamin itu? Penularan virus ini bukan hanya melalui kontak langsung dan tak langsung dengan pasien positif Covid-19, tapi uang yang digunakan dalam bertansaksi pun menjadi media paling rentan dalam mata rantai penyebaran,” tegas Walikota Kotamobagu.

Adapun kenapa supermarket bisa beroperasi sampai jam 7 malam, sementara di situ juga ada potensi penularan menurutnya, freweksi keramaian dan interaksi pasar dan pasar swalayan atau pertokoan, berbeda.

Dikatakan bahwa supermarket pun punya potensi namun pola interaksi di pasar tentu agak berbeda dengan di supermarket.

“Di pasar polanya terlalu intim dengan lalu lintas orang yang sangat padat dan cenderung tidak teratur, belum ditambah akses jalan yang sempit. Coba kalau kalian berbelanja di pasar, pasti akan sangat mudah bersentuhan dengan orang, berhimpitan dan berdesakan di lorong-lorong lapak. Sementara di supermarket, polanya masih agak renggang dan tergolong masih teratur, akses masuk keluarnya pun hanya satu atau dua pintu,  lebih mudah diatur dan ditata untuk menerapkan protokol penanganan covid-19,” terangya.

Dikatakan, sekira 50 persen ibu-ibu di Kotamobagu melakukan aktivitas belanja di pasar. Saat ini penyebaran virus ini sudah masuk kategori transmisi lokal, artinya penularan sudah terjadi antar penduduk lokal, dan bukan hanya berasal dari orang-orang yang datang sehabis melakukan perjalanan dari luar daerah khususnya daerah dengan zona merah. Yang lebih mengkhawatirkan ternyata penularannya sudah melalui orang yang tanpa gejala, dan ini menjadi sangat rentan dan memiliki resiko tinggi.

“Jika kemudian ada satu saja dari ibu-ibu ini yang terinfeksi, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Bagaimana suami mereka? Anak-anak mereka di rumah? Keluarga mereka? Saya tak rela jika ada ibu-ibu kita yang harus mengalami ini. Satu pun warga kotamobagu akan saya lindungi,” paparnya. (FD/KPC)

Kategori: Breaking News, KotamobaguTag:
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pernyataan Resmi Walikota Kotamobagu Terkait Pembatasan Jam Operasional Pasar "

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.