oleh

Tondano 1904, Perayaan 50 Tahun Pelayanan Pdt. Hessel Rooker (oleh :Romy Toar Nonutu)

SEBUAH kehormatan langka, telah diterima oleh seorang misionaris yg telah melaksanakan tugas pelayanan selama 50 tahun. Misionaris tersebut adalah Pdt. Hessel Rooker yang telah melaksanakan tugas pelayanan selama setengah abad di Tondano, beliau diutus oleh NZG atau Nederland Zendeling Genotschap yang berpusat di Roterdam. Selama bertugas di Tondano, beliau telah menjalin hubungan yg erat  dengan jemaat2 di Tondano. Begitu juga dikalangan para pendeta yang bertugas di Minahasa beliau sangat dihormati karena selalu bersedia membantu dan memberi nasehat kepada pendeta-pendeta yg lebih muda.

Persiapan perayaan 50 tahun pelayanan pdt Rooker diawali dengan pertemuan antara para pendeta di Minahasa pada tanggal 6 oktober 1904. Dalam pertemuan tersebut para pendeta memutuskan untuk mengadakan suatu acara peringatan di saat ulang tahun pelayanan Pdt. Rooker di Tondano. Kemudian diutuslah Pdt. Jan Louwerier mewakili para pendeta di Minahasa untuk bertemu dengan dua Mayoor Tondano yaitu Mayor Apeles Hendrik Supit dan Mayor J.A Kawilarang dan juga dengan kontrolir Tondano Pieter Anton Morrees. Mereka juga membentuk panitia yg mengatur segala sesuatu yg harus dipersiapkan dalam perayaan tersebut.

Tahap pertama, panitia ini mengumpulkan dana dari para anggota panitia itu sendiri. Setelah itu mereka mengirim surat kepada seluruh teman2 Pdt.Rooker, baik yg berada di Hindia Belanda (Indonesia) maupun yg berada di negri Belanda untuk meminta bantuan kontribusi mereka dalam rangka menyukseskan perayaan itu sekaligus mengundang mereka hadir dalam acara tersebut. Sambutan dari para sahabat Pdt. Rooker sungguh luar biasa bahkan ada seseorang mengirim uang dalam jumlah yg sangat besar (tidak dituliskan jumlahnya berapa).

Dari NZG sendiri selain mengirimkan dana mereka juga mengirimkan surat edaran kepada seluruh pendeta-pendeta di Hindia Belanda untuk membantu acara ini, yang ditanda tangani oleh direktur NZG, yakni J.W Guning.

Seorang guru yg pernah bertugas di Tondano bernama N.J Nolen  bahkan mengirimkan dari Surabaya sebuah batu marmer yang bertuliskan :

“Kapada hormat maka pengingatan Toean H. Rooker, jang telah membangoenkan roemah gredja ini. Di tahbiskan pada hari Raja Toean itoe bekerdja 50 tahoen salakoe pandita Tondano ”

Batu marmer tersebut kemudian ditempatkan di atas pintu masuk utama di gereja besar Tondano.

Persiapan di Tondano sudah dimulai lebih awal lagi dimana jemaat sudah membangun sebuah “Saboewah” (bangsal) yg terbuat dari bambu dihalaman rumah (Pastori?) Pdt.Rooker. Jemaat juga membangun dua gapura besar yang juga terbuat dari bambu, yang ditempatkan di rumah Pdt Rooker dan di halaman gereja.

Dekorasi pada kedua sisi gapura tersebut terdapat tulisan “Haleluja” dan “Hosana” . Dibagian depannya diberi foto potret Pdt.Rooker yang dibawahnya terdapat tulisan dalam bahasa Tondano :

“Si Opo limungkur Nikou, Nupusna wangko karengan Witu leos WO LewoNupusna rei si kaapuan!” (Mazmur 16)

Gapura yang ada dirumah pdt.Rooker terletak dipinggir jalan dimana bagian yang menghadap ke arah jalan terdapat tulisan dalam bahasa melayu yang berbunyi :

“Segala sesoeatoe yang hidoep dan bernafas memoedji Tuhan! Haleluya!”

sedangkan bagian dalam yang menghadap kesamping rumah terdapat gambar salib dan jangkar dengan tulisan :

1854 – 31 oktober – 1904 “Sampei disini Hoea soedah toeloeng akoe”

Pada hari Minggu 30 Oktober 1904 semua undangan sudah hadir termasuk para pendeta, namun ada dua orang pendeta yang berhalangan hadir yaitu Pdt. J.A.T Schwarz karena sakit rematik dan Pdt. G.A.W Geisller yang mendadak jatuh sakit.

Yang terlihat hadir antara lain Pdt. Jan Louwerier, Dr.Nicolaas Adriani dan istri, Dr.Gelius Meindert Brouwer dan istri, juga para orang Eropa yg ada di Manado dan Tondano, keluarga pdt Rooker antara lain anak tiri Rooker (anak dari Anthonetha Sabine Riedel dan Hendrik Willem Nooij), yaitu Henriëtte Gijsbert Nooij beserta suaminya Arie Van der kolf.

Ibadah Minggu pagi dipimpin sendiri oleh Pdt. Hessel Rooker dengan mengambil nats Pembacaan alkitab dari l Kor 15 : 106. kemudian pembacaan berkat Apostolik diambil dari Tahleel 138 : 2 (Mazmur 134 : 3).

Hari Senin 31 Oktober 1904, puncak perayaan itu. Pada pagi hari pukul 6:30 orang2 dibangunkan oleh bunyi suling yg dimain oleh sekelompok orang (musik bambu?) kemudian sesudah itu datang berkumpul para guru-guru injil (Penulong) mereka menyanyikan lagu-lagu Hymne, setelah itu atas nama semua guru2 injil seorang penulong dari Kombi yang bernama Charlis Pangau, menyampaikan sambutan yang berisi antara lain ucapan terima kasih kepada Pdt. Rooker yang telah membina mereka karena hampir semua guru jemaat yang hadir saat itu adalah bekas murid Pdt Rooker, bahkan banyak yang menikah dengan anak piara yang tinggal dirumah Pdt.Rooker. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada almarhum istri Pdt. Rooker, yaitu Antje Hiebink. Penulong Pangau berbicara dalam bahasa yg halus. Terakhir Pangau mengatakan bahwa masyarakat Tondano berhutang banyak kepada Pdt.Rooker, karena itu nama Rooker akan selalu dikenang oleh seluruh masyarakat Tondano. Pidato Penulong Pangau ditutup dengan berseru : Eben Ezer! Sampai Sekarang Tuhan Menolong!

Pada pukul 07:30 murid2 dari Gemeenteschool Tondano yang dipimpin oleh guru J.Frederik dengan memegang bendera dan para gadis membawa karangan bunga sambil menyanyikan lagu2 pujian. Setelah itu semua undangan dan hadirin masuk pada acara perayaan yang sudah disiapkan di dalam gedung gereja yang sudah dipenuhi orang. Delapan pintu gereja yg ada semua dibuka. Gedung gereja tak mampu menampung semua hadirin, sebagian hanya berdiri di selasar dan sebagian besar orang berada dihalaman gereja.

Setelah jam 9, Pdt.Rooker dijemput oleh kontrolir Tondano Mr. P.A Morees bersama Mayor Toulimambot A.H Supit, Pdt Steller, Dr G.M Brouwer dan Pdt H.L Langevoort. Sesampainya di gereja, Pdt. Rooker duduk dikursi kehormatan bersama Kontrolir sedangkan di sebelah kanannya duduk tuan dan nyonya Van der Kolff beserta dua anak laki2 mereka yaitu Arie Hessel Nooij van der Kolff dan Gerard Hendrik van der Kolff , kemudian di sebelah kiri duduk Tuan dan nyonya Hiebink Rooker – Kruijt. Ketika Pdt. Rooker memasuki gereja, seluruh jemaat berdiri.

Acara pertama diisi dengan puji-pujian dari murid-murid Gemeenteschool Tondano, dibawah pimpinan kepala sekolah W.Kaligis, mereka membawakan 4 buah lagu. Setelah itu ibadah dibuka dengan menyanyi dan berdoa yg dipimpin oleh Pdt. Jan Louwerier. Kemudian paduan suara dipimpin oleh Penulong Willem Mamentu yang membawakan lagu dari buku Ketjapi Sion No. 57.

Setelah selesai paduan suara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan dalam bahasa Belanda oleh Mr. Pieter Anton Morees . Sambutan ini sangat panjang namun isinya secara garis besar mengenai jasa-jasa Pdt Rooker dalam mengkristenkan masyarakat Tondano, juga kerja sama beliau dengan pemerintah setempat, pengorbanan beliau selama melayani jemaat Tondano dan peran beliau sebagai kepala keluarga. Kontrolir Morees juga menyatakan bahwa telah menerima pesan dari Ratu Wilhelmina yang berencana memberikan penghargaan pejabat Orde van Oranye Nassau karena kesetiaan dalam tugas. Pada akhir sambutan tersebut kontrolir menyerahkan sebuah album yang berisi 60 foto dan kartun wajah Pdt Rooker yang telah ditanda tangani oleh orang-orang yang berkontribusi dalam pembuatan album tersebut.

Setelah itu kembali pujian-pujian dibawakan oleh para guru injil dibawah pimpinan Penulong Arnold Christian Tumbel. Kemudian setelah itu berdiri Mayor Toulimambot Apeles Hendrik Supit untuk memberikan sambutan. Dengan gaya berapi-api, Mayor Supit mengulang kembali pernyataan bahwa masyarakat Tondano berhutang kepada Pdt. Rooker dan Pdt. Riedel. Supit bahkan bersaksi tentang sikap orang Tondano yg kasar tapi dengan kesabaran Pdt.Rooker dan Riedel, orang Tondano telah berubah menjadi orang2 yang taat beribadah dan tahu bersopan santun. Mayor Supit juga menyinggung soal jasa Pdt.Rooker dalam membangun Gereja Besar (sekarang Sentrum), juga menghimbau kepada para orang tua yang mempunyai anak dan belum diberi nama supaya memakai nama Rooker sebagai pengingat akan jasa-jasa Pdt. Rooker bagi jemaat dan masyarakat Tondano.

Setelah selesai sambutan Mayor Supit tiba pada acara pembukaan tirai yang didalamnya berisi potret Pdt. Rooker yg berukuran besar dalam bingkai berlapis emas, di bagian bawah foto tersebut terdapat teks ayat Alkitab dari kitab Daniel 13 : 8 dan Ibrani 13 : 7 sedangkan

dibagian atasnya Kolose 1 : 20. Potret tersebut diharapkan akan selamanya terpancang di dinding gereja Protestan Tondano (kemungkinan foto dan bingkai tersebut turut hancur waktu gereja Sentrum di bom sekutu pada tanggal 11 Februari 1945). Pembukaan tirai penutup potret ini membawa kesan mendalam bagi semua yang hadir.

Setelah keadaan mulai tenang, kembali puji-pujian dibawakan oleh murid-murid GemeenteSchool. Sementara pujian-pujian dikumandangkan, Pdt. Jan Louwerier naik ke mimbar dan mengajak jemaat untuk membuka kitab Leviticus (Imamat) 25 : 11

“Tuhan berbicara melalui mulut Nabi Musa, tahun kelima puluh akan untuk tahun Yobel Nya.”

Dalam khotbahnya Pdt. Louwerier mengurut secara kronologis mengenai awal mulanya kekristenan di Tondano, juga soal jumlah jemaat awalnya hanya sedikit tapi berkat pelayanan Rooker pada saat itu praktis sebagian besar penduduk Tondano telah menjadi Kristen. Pdt. Louwerier juga mengajak jemaat untuk mengingat jasa2 para pelayan yang sudah lebih dahulu berpulang kerumah Bapa, antara lain: Penulong Silvanus Item, Penulong Petrus Kowaas, Penulong Elisa Siwi, Penulong Elnardus Sanggor, juga saudara Herman, Saul (Saul Mewengkang) dan Oom Mesakh (Mesakh Rambitan) , Elisheba, Salome, Pieternella dan Ludia.

Setelah itu beliau menjelaskan arti dan makna yang terkandung dalam ayat-ayat alkitab yang terpahat di bingkai potret Pdt.Rooker yang tergantung di dinding bagian depan gereja. Khotbah diakhiri dengan menyanyikan lagu dalam tahlil 106 : 5a dan 7b (Mazmur 118 : 12a dan 14b).

Setelah selesai, puji-pujian kembali dan dilanjutkan lagi dengan sambutan dari Guru Injil  dari Eris,  Lodewijk Adam, yang membawakan sambutan dalam bahasa Melayu. Beliau mengungkapkan bahwa beberapa orang yang dicintai telah mendahului dan yang tersisa adalah anak tiri perempuan (Nyonya van der Kolff) yg juga anak tertua dan Johannes Hendrik ‘Hein’ Hiebink Rooker (direktur Kweekschool Kuranga) yang secara rutin datang berkunjung ke Tondano. Penulong Adam berkata bahwa hutang mereka kepada Pdt Rooker akan mereka bayar dengan pengabdian penuh pada pelayanan. Setelah Selesai sambutan  jemaat menyanyikan lagu dalam Tahlil 37:3

Sambutan yang paling terakhir dibawakan oleh seorang tetua jemaat (tidak di tulis namanya). Sambutan ini dibawakan dalam bahasa Tondano, beliau mengumpamakan pelayanan Pdt Rooker seperti pohon yang tumbuh semakin besar dan menjadi tempat berteduh bagi banyak orang.

Pdt.Rooker sangat terharu mendengar semua sambutan2 dan hadiah yg diberikan oleh  pemerintah dan jemaat. Pdt Rooker mengucapkan terima kasih untuk semua penghormatan, penghargaan yang diberikan kepadanya; ucapan terima kasih tersebut disampaikan dalam  dua bahasa, pertama bahasa Belanda dan kedua dalam bahasa melayu.

Pdt. Jan Louwerier menutup seluruh rangkaian acara ini dengan ucapan syukur dan menyanyikan lagu dalam Tahlil 173, kemudian berkat Apostolik disampaikan kepada seluruh jemaat.

Setelah ibadah, semua yang hadir berjabat tangan dengan Pdt. Hessel Rooker yang di dampingi oleh keluarganya.

Pada malam hari  sekitar pukul 7, anak-anak datang ke halaman gedung gereja sambil membawa lampion yang terbuat dari daun woka sambil menyanyikan lagu-lagu pujian. Kemudian diaadakan semacam pertunjukan tonil (drama) oleh anak-anak dan pemuda. Mereka menggambarkan sebuah tangga yang dikawal oleh para malaikat yang diperankan oleh 12 orang gadis dengan memakai baju putih dan sayap, dan di bagian bawah tangga ada seorang anak digambarkan sebagai Yakub yang tertidur di batu. Kemudian ada sembilan orang gadis muda membuat lingkaran ditiga lokasi berbeda. Tiga lingkaran ini mewakili tiga unsur yaitu : Iman ,Pengharapan dan Kasih. Sesudah itu mereka menyanyikan sebuah lagu Belanda yang bercerita tentang Iman, Pengharapan dan Kasih, lagu ini diiringi dengan instrumen biola yang dimainkan oleh anah tertua Mayor Toulimambot ,Pertunjukan ini sangat berkesan.

Pada pukul 9 diadakan pesta yang dihadiri oleh orang-orang Eropa dan para kepala distrik. Pesta ini dihadiri sekitar 60 orang.

Besok harinya tanggal 01 November 1904 sekitar pukul 1 siang diadakan lagi pesta yang hanya khusus dihadiri oleh para hukum tua, guru jemaat dan guru sekolah. Turut hadir Pdt H.L Langevoort dan keluarga. Pertemuan ini selesai pada pukul 4 sore hari.

Pesta perayaan 50 tahun pelayanan pendeta Hessel Rooker benar-benar telah sukses dan berjalan dengan baik. (Sumber MNZG Vol.49 tahun 1905)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.